Ini ayat yang populer banget. Jangan prioritaskan uang, prioritaskan Tuhan. Jangan prioritaskan ketenaran, prioritaskan Tuhan. Nanti Tuhan yang ganti waktu yang kamu pakai untuk melayani, Dia kasih kamu semua yang kamu butuhkan. Trus kadang ayat ini dipakai untuk menghimbau supaya jemaat jadi pelayan mimbar, ikut persekutuan rutin, dsb. Padahal, arti sebenarnya jauh, jauh lebih dalam dari itu.
Alain de Botton, dalam bukunya, Status Anxiety menulis bahwa kapitalisme memang membuat orang lebih makmur secara material, tapi anehnya, menambah rasa tidak aman dan iri hati satu sama lain. Kita sebenarnya adalah generasi yang beruntung. Tidak dihantui oleh ketakutan akan setan seperti jaman medieval, tidak dijajah seperti jaman kakek-nenek kita, sumber makanan berlimpah karena ada teknologi. Tapi di tengah-tengah kenyamanan hidup, tetap saja kadang (atau sering?) kita merasa kosong, tidak puas akan hidup.
Dulu sejujurnya, saya ingin jadi orang kaya. Sederhana, karena hidup jadi lebih mudah. Mudah bayar uang sekolah anak, mudah kemana-mana karena ada mobil. Mudah karena ada respek dari orang. Setelah lulus kuliah, baru sadar bahwa jadi orang kaya dengan kerja keras sendiri (dulu targetnya net worth 2 M) itu susah huahua. Kalau mau gaji tinggi, harus kerja di perusahaan dan industri tertentu, atau di posisi tertentu, yang semuanya membutuhkan totalitas dan seringkali mengikis idealisme at least, dan integrity at most.
Jadi, perjalanan menuju kemakmuran finansial memerlukan pengorbanan, dan bisa jadi ketika sudah ‘aman’, kita masih merasakan kekhawatiran, hanya bentuknya berbeda. Kita jadi khawatir kalau uang kita hilang dan kita kehilangan semua kenyamanan yang sudah dimiliki. Kita jadi khawatir bahwa orang respek kepada kita karena mereka ingin memanfaatkan kita.
Di sisi lain, sebenarnya kekayaan adalah alat bagiku untuk mencapai kenyamanan, respek dari orang lain, dan kebanggaan pada diri sendiri. Selain motivasinya sangat egosentris, cara untuk memperolehnya juga perlu dicermati. Dalam 3 tahun bekerja ini, aku sudah melihat bahwa bagaimana orang bisa jadi kaya (di negeri ini) perlu melakukan suap, penggelapan uang perusahaan, dsb. Pantas Yesus bilang orang kaya susah masuk kerajaan Allah.
Kalau begitu, apakah salah jadi kaya? Apakah salah jika kita menginginkan kenyamanan, respek dari orang lain, dan kebanggaan pada diri sendiri?
Dear friends, hidup tidaklah seperti pilihan ganda di waktu sekolah. Seringkali tidak ada satu pilihan yang benar. Hidup juga bukan seperti soal Fisika yang variabelnya diketahui dan kamu punya rumus yang tinggal dimasukkan. Hidup adalah essay, kita sendiri yang perlu menganalisis setiap situasi dan mengaplikasikan hikmat yang sudah kita pelajari sampai saat ini.
We have a fucked up society, yang memperlakukan manusia berdasarkan apa yang ia miliki/hasilkan/berikan. We have a fucked up society, yang mengatakan bahwa kita harus hidup nyaman, mendapatkan respek dari orang lain, dan menjadi yang terhebat. We have a fucked up society, yang menghargai orang dengan mobil lebih dari menghargai orang dengan motor.
Pada akhirnya, kenyamanan, kebanggaan diri, dan respek dari orang lain tidak akan membuat kita benar-benar bahagia. Itulah mengapa Yesus mengeluarkan kalimat
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allahย dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.“
Jika kamu mencari Kerajaan Allah, kamu pasti tahu bahwa ada hidup kekal setelah hidup ini, dan Bapa di surga memelihara hidupmu jadi kamu tidak perlu khawatir dan mencari jalan sendiri. Kamu tahu bahwa selama kamu mencari pada sumber yang salah, kamu tidak akan mendapatkannya.
Jika kamu mencari Kerajaan Allah, kamu tahu bahwa Bapa melihat manusia bukan dari penampakan, tapi dari hati. Kamu tahu bahwa kamu bukan hanya mampu, kamu dimampukan, sehingga tidak ada alasan untuk menyombongkan diri.
Kamu akan mendapat hikmat untuk menghadapi masa apapun dalam hidup. Kamu akan bertahan di saat semua orang mulai menyerah. Semua hal utama yang diinginkan manusia (rasa dicintai, penghargaan, rasa aman) dapat kamu dapatkan, hanya saat kamu mencari Kerajaan Allah.
Sejujurnya, saat ini aku tidak berada di tempat yang kuinginkan dulu. Tapi syukur kepada Allah, atas semua yang terjadi, aku mengerti jalan-jalanNya, and I can testify to you, that it is worth more than the most precious thing in the earth.