Skyscraper

Beneath the starry skies

There were we engraving

Each other’s names on a piece of clay

and buried it between the roots of redwood tree

.

Who would predict

that twenty years later

the gigantic tree would transform

into a taller, bigger creature

.

Well it’s okay

We’re faithful

I am a geologist and you are a gold miner

No rock is too difficult to get through

.

But does it really matter though?

Beneath the starry skies

Should we dig into the unknown

Or gaze upon the impossible universe?

Dear 2020

There we go, another post about a year that almost pass. For the first time, I guess, the main actor of the year is not ourselves. We can finally think of other being and stop thinking about whether we are cool enough in the eyes of our spectators. Covid-19 is amazing, eh? It has achieved what lectures and sermon often fail to deliver. It could make human realize that frankly, they are not the center of universe.

We can’t control everything. We can’t do whatever we want. It doesn’t matter whether we believe Covid is real or not, when the virus enters the body, the body is infected. For a society that tends to glorify liberty, Covid 19 is a nightmare.

Despite the fact that life is more exhausting and more unorganized than before, I am happier and mentally more stable. I just hope that next year the revenue increases, so that I could work on another goal.

Secondly, I am now married!! If our fate didn’t cross, I don’t think we would choose each other. My taste usually brings me to disappointment, but God saved me from my desire! And the more I know my husband, the more I realize that he surpasses all the men who have come and gone.

Monika wants to be a civil servant, working in corporation doesn’t suit her well I guess. Monita has graduated from the Professional Education Program! She is officially a veterinarian now ๐Ÿ™‚

I have turned some pages, yet this year still leaves me hanging at the other. When everybody that you look up to let you down, repeatedly, is there any reason to believe in them? When you are perplexed at some different points of view, and you doubt what you believed, will you keep walking on the same path? When what you have built slowly crumbles, and you don’t have enough energy and motivation to continue or to start over, will you give up?

Dear 2020,

Thanks for the surprise, disappointment, lesson, joy, and puzzle. You won’t be forgotten.

Favorite Things at Kitchen

ayam saus wijen jahe

Ngeliat selada layu jadi seger lagi abis direndam di air

Dengerin suara bumbu yang ditumis di minyak wijen, renyah banget astaga!

Nyobain kacang merah yang udah empuk abis direbus lama, masak kacang merah lebih lama dari masak ayam lol

Menebarkan parsley ke atas kentang

Bisa bikin potongan julienne wortel yang rapi

Liat bakso ikan dan fish cake mengembang waktu direbus

Ngerasain kuah udah enak tanpa harus nambahin MSG, rasanya bangga hwhwhwh

Ada yang komentar masakannya enak ๐Ÿ˜€

Mindfulness

Tarik napas..
Hitung 1, 2, 3..
Hembuskan..

Berfokus pada saat ini,
rasakan udara memasuki tenggorokan,
perhatikan gerakan rongga dada,
rasakan sensasi yang diberikan oleh napas
kepada tubuh

Rasanya seperti itu instruksi yang sering diberikan pada seseorang yang sedang berlatih mindfulness. Dulu aku pernah mencobanya, alhasil dalam beberapa menit aku sudah tertidur pulas.

Kemarin secara tak sengaja aku menjumpai perasaan yang mirip,
bukan saat sedang meditasi,
tapi saat sedang menuang garam ke dalam adonan tepung

Aku baru pulang dari membeli bahan
saat garam kumasukkan,
seperti ada perpindahan suasana
dari ributnya lalu lintas dan pikiran di kepala
kepada gerakan tangan yang entah kenapa
benar-benar membuat bahagia

Di titik itu aku benar-benar fokus
Pikiranku tidak semrawut
Tidak terburu-buru
Tidak panik
Padahal jam sudah menunjukkan pukul 10.00
Satu jam lagi masakan harus sudah diantar!

Esok tadi aku mencoba menghadirkan kembali rasa itu
Syukurlah dia masih bisa dijumpai

Sepertinya saat pikiranku sedang tidak karuan
Saat aku sedang sangat marah
Saat aku sedang sangat sedih
Aku akan mencoba menuangkan garam di tepung lagi


Padang Hijau

Di antara semua jenis obyek wisata alam yang pernah kudatangi, ga ada yang tempatnya secocok ini buat pikiranku yang ribut sendiri.

Di gunung ada gemerisik daun dan kicauan burung

Di pantai ada ombak

Di danau ada riak-riak air

Di sawah ada suara angin yang membelai daun padi

Di sini sunyi. Tak ada suara yang menghias waktu.

Menjadikan waktu seperti tidak memiliki eksistensi.

Secara otomatis bibirku mengucap, “Surga kayak gini nggak yah?”

Aku mendadak teringat, waktu kuliah dulu pengen banget ke tempat yang ada padang rumputnya, terus tiduran di situ sambil memandang awan.

Mimpi yang aneh itu akhirnya terkabul juga, padahal berencana ke tempat ini baru H-1. Memang kalau ngga random bukan hidup namanya.

Semoga ngga banyak yang makin tahu tempat ini. Biar tetap hijau.

Biar kalau aku ke sini lagi, aku masih bisa tiduran di rumput, memandang awan, merasakan surga.

The Vain Glory

Berlian adalah veblen goods. Barang yang ketika harganya semakin mahal, demand nya semakin tinggi. Berlian merupakan lambang kesuksesan seseorang. “Berlian yang engkau belikan untuk istrimu haruslah semahal 3x gaji bulanan,” demikian rule of thumb-nya. Berlian merupakan lambang secinta apa kita terhadap pasangan kita. “This diamond says how much I love you.”

Tahu siapa yang memulai ini semua?

Benar, perusahaan berlian tertua, De Berre. De Berre menggunakan berbagai macam iklan dan tagline untuk meningkatkan citra berlian, bahwa berlian merupakan salah satu simbol harga diri. Dan kamu pasti bisa menebak siapa market yang disasar. Meskipun pemakai berlian paling banyak adalah wanita, ternyata konsumen yang sebenarnya adalah pria.

Tak bisa dipungkiri bahwa manusia membutuhkan validasi. Setelah post di instagram atau chat di WA, kita pasti ingin dibalas. Aku juga seperti itu kok. Sayangnya paham dunia dan media saat ini membuat kita berpikir bahwa validasi dari orang lain adalah hal yang paling utama.

“Kalau beli skin care ini, kamu jadi glowing dan pasti cowok mulai mendekat.”

“Kalau baca buku ini, kamu akan tahu cara berkomunikasi dengan baik, dan karirmu akan naik.”

“Kalau beli mobil ini, kamu akan terlihat keren di mata orang lain.”

Sebenarnya bukan masalah kulit sehat atau mobil mewah, tapi lebih ke mengapa kita harus berhati-hati dalam mencari validasi

Saat ini hati dikaitkan dengan emosi. Tapi kalau lihat di Alkitab, hati sebenarnya merupakan tempat untuk sesuatu. A seat. Tempat untuk hal yang kita paling percaya, paling sukai, paling cintai.

Di mana hartamu berada, di situ hatimu berada.

Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan jangan bersandar pada pengertianmu sendiri.

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Jadi hati akan mempengaruhi emosi, pikiran, dan bahkan tubuh kita.

Kita semua tahu bahwa hal paling benar adalah menempatkan Tuhan dalam tempat terutama. Tapi memang susah, karena seringkali story instagram lebih nyata dibandingkan Tuhan.

Sampai saat ini, aku masih menganggap cara paling efektif untuk mencapai keadaan hati yang berpusat pada Tuhan adalah dengan berdoa, membaca alkitab, bersekutu dengan saudara seiman, dan bersaksi.

Ketika melakukan empat ini, aku mengingatkan diriku bahwa Tuhan ada, dan ketika Dia ada, validasi yang utama seharusnya kucari dari Dia, bukan dari tempat lain.

Ukuran diriku seharusnya ditentukan oleh Dia yang menciptakanku. Aku hidup bukan untuk memperlihatkan kesuksesan kepada orang lain, tapi untuk mendengarkan kalimat ini di akhir nanti:

‘Well done, good and faithful servant! You have been faithful with a few things; I will put you in charge of many things. Come and share your master’s happiness!’

Matius 6 : 33

Ini ayat yang populer banget. Jangan prioritaskan uang, prioritaskan Tuhan. Jangan prioritaskan ketenaran, prioritaskan Tuhan. Nanti Tuhan yang ganti waktu yang kamu pakai untuk melayani, Dia kasih kamu semua yang kamu butuhkan. Trus kadang ayat ini dipakai untuk menghimbau supaya jemaat jadi pelayan mimbar, ikut persekutuan rutin, dsb. Padahal, arti sebenarnya jauh, jauh lebih dalam dari itu.

Alain de Botton, dalam bukunya, Status Anxiety menulis bahwa kapitalisme memang membuat orang lebih makmur secara material, tapi anehnya, menambah rasa tidak aman dan iri hati satu sama lain. Kita sebenarnya adalah generasi yang beruntung. Tidak dihantui oleh ketakutan akan setan seperti jaman medieval, tidak dijajah seperti jaman kakek-nenek kita, sumber makanan berlimpah karena ada teknologi. Tapi di tengah-tengah kenyamanan hidup, tetap saja kadang (atau sering?) kita merasa kosong, tidak puas akan hidup.

Dulu sejujurnya, saya ingin jadi orang kaya. Sederhana, karena hidup jadi lebih mudah. Mudah bayar uang sekolah anak, mudah kemana-mana karena ada mobil. Mudah karena ada respek dari orang. Setelah lulus kuliah, baru sadar bahwa jadi orang kaya dengan kerja keras sendiri (dulu targetnya net worth 2 M) itu susah huahua. Kalau mau gaji tinggi, harus kerja di perusahaan dan industri tertentu, atau di posisi tertentu, yang semuanya membutuhkan totalitas dan seringkali mengikis idealisme at least, dan integrity at most.

Jadi, perjalanan menuju kemakmuran finansial memerlukan pengorbanan, dan bisa jadi ketika sudah ‘aman’, kita masih merasakan kekhawatiran, hanya bentuknya berbeda. Kita jadi khawatir kalau uang kita hilang dan kita kehilangan semua kenyamanan yang sudah dimiliki. Kita jadi khawatir bahwa orang respek kepada kita karena mereka ingin memanfaatkan kita.

Di sisi lain, sebenarnya kekayaan adalah alat bagiku untuk mencapai kenyamanan, respek dari orang lain, dan kebanggaan pada diri sendiri. Selain motivasinya sangat egosentris, cara untuk memperolehnya juga perlu dicermati. Dalam 3 tahun bekerja ini, aku sudah melihat bahwa bagaimana orang bisa jadi kaya (di negeri ini) perlu melakukan suap, penggelapan uang perusahaan, dsb. Pantas Yesus bilang orang kaya susah masuk kerajaan Allah.

Kalau begitu, apakah salah jadi kaya? Apakah salah jika kita menginginkan kenyamanan, respek dari orang lain, dan kebanggaan pada diri sendiri?

Dear friends, hidup tidaklah seperti pilihan ganda di waktu sekolah. Seringkali tidak ada satu pilihan yang benar. Hidup juga bukan seperti soal Fisika yang variabelnya diketahui dan kamu punya rumus yang tinggal dimasukkan. Hidup adalah essay, kita sendiri yang perlu menganalisis setiap situasi dan mengaplikasikan hikmat yang sudah kita pelajari sampai saat ini.

We have a fucked up society, yang memperlakukan manusia berdasarkan apa yang ia miliki/hasilkan/berikan. We have a fucked up society, yang mengatakan bahwa kita harus hidup nyaman, mendapatkan respek dari orang lain, dan menjadi yang terhebat. We have a fucked up society, yang menghargai orang dengan mobil lebih dari menghargai orang dengan motor.

Pada akhirnya, kenyamanan, kebanggaan diri, dan respek dari orang lain tidak akan membuat kita benar-benar bahagia. Itulah mengapa Yesus mengeluarkan kalimat

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allahย dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Jika kamu mencari Kerajaan Allah, kamu pasti tahu bahwa ada hidup kekal setelah hidup ini, dan Bapa di surga memelihara hidupmu jadi kamu tidak perlu khawatir dan mencari jalan sendiri. Kamu tahu bahwa selama kamu mencari pada sumber yang salah, kamu tidak akan mendapatkannya.

Jika kamu mencari Kerajaan Allah, kamu tahu bahwa Bapa melihat manusia bukan dari penampakan, tapi dari hati. Kamu tahu bahwa kamu bukan hanya mampu, kamu dimampukan, sehingga tidak ada alasan untuk menyombongkan diri.

Kamu akan mendapat hikmat untuk menghadapi masa apapun dalam hidup. Kamu akan bertahan di saat semua orang mulai menyerah. Semua hal utama yang diinginkan manusia (rasa dicintai, penghargaan, rasa aman) dapat kamu dapatkan, hanya saat kamu mencari Kerajaan Allah.

Sejujurnya, saat ini aku tidak berada di tempat yang kuinginkan dulu. Tapi syukur kepada Allah, atas semua yang terjadi, aku mengerti jalan-jalanNya, and I can testify to you, that it is worth more than the most precious thing in the earth.

Terbiasa

Butuh waktu 3 bulan buat membiasakan diri dari kehidupan SMP ke SMA

6 bulan dari SMA ke kuliah

1 tahun waktu patah hati

2 tahun untuk kepergian papa

3 tahun untuk kepergian mama

Farewell sucks, but they taught me lesson no school can teach:

1. Don’t expect too much out of life, expect what is essential.

2. Don’t take people close to you for granted

3. You are strong, and every storm will come to pass

4. Eventho you have 1000 reasons to complain, you can be grateful for the sun which still shines, so you can eat spinach, and bacon.

Well, see you next month.

Force Majeur

Dulu waktu kuliah, selalu diajarin buat masukin force majeur ke dalam analisis apapun. Masukin force majeur ke dalam kontrak kerja. Masukin force majeur ke analisis risiko dan keuangan. Tapi ga pernah kuanggap serius, mostly karena force majeur ini kayak gapernah kualami secara langsung.

Gapernah tinggal di kota yang ada gempanya, yang ada tsunaminya, atau yang banyak kerusuhannya. Baru sekarang aku paham apa yang diomongin Nassim Thaleb di Black Swan. Kejadian kayak gini emang jarang banget, tapi ada, dan dampaknya gila.

Mencari Abang Bakso

8 Maret 2020. Jam 9.45 malam. Di depan mess.

Pintu mess susah sekali dibuka, entah kenapa. Husa lagi jalan-jalan sama temennya, Rio pulang ke rumahnya di Moncongloe, batre HPku tinggal 10%. Kucoba lagi membuka pintu harmonika itu, tetap ga bisa. Akhirnya aku memutuskan menunggu Husa di kafe dekat mess, sambil nge-charge HP. Dengan kondisi batre yang kaya gini aku ga berani pesan gojek, ntar keburu mati sebelum gojeknya sampai. Semoga kafenya buka.

8 Maret 2020. Jam 10 malam. Di PMI

Kafenya tutup! Padahal hari Minggu lalu dia buka. Huufffttt. Mana cuaca Makassar malam ini dingin banget. Aku coba menunggu Husa di PMI di dekat kafe. Di sana ada banyak orang mengantri untuk donor, tidak seperti biasanya. Sepertinya sedang ada keluarga mereka yang membutuhkan darah. Aku sudah mengantuk dan batre HP tinggal 2%. Gabisa cari stop kontak di PMI, ga enak sama orang2 yang beneran nungguin giliran. Aku berpikir untuk ke Alfamart.

8 Maret 2020. Jam 10.15 malam. Di depan Alfamart.

Aku duduk di kursi tukang bakso depan Alfamart. Ini tukang bakso langganan, jadi mungkin dia ga enak menolak permintaanku. Sebenernya aku juga agak tidak enak karena hari itu tidak beli baksonya, tapi mau gimana lagi perut ini udah penuh abis makan mi jawa.

Saat itu HPku dicharge di Alfamart, dan di tangan ada segelas teh tarik harga 6000. Tanpa HP di samping adalah pengalaman yang aneh. Seperti ada yang hilang. HP sudah menjadi alat untuk menenangkan diri. Aku menyeruput teh, dan akhirnya bisa terbiasa dengan kesunyian ini. Aku mulai menikmati mengobservasi jalanan dan kendaraan yang lalu lintas di Veteran malam itu. Ternyata ada ruko yang sedang dijual di depan Alfamart. Aku jadi ingat beberapa waktu belakangan aku menjumpai cukup banyak ruko sedang dijual. Apakah orang-orang sedang butuh uang?

Pikiranku beralih ke 2012, saat kegiatan memandang jalan ini cukup rutin kulakukan bersama teman-teman SMA. Hahaha. Kami suka menjelajah Kota Semarang, mulai dari roti bakar semawis, tempat makan di arah Banyumanik yang memberikan pemandangan lampu kota, sampai di tahu gimbal simpang lima. Kami bicara banyaak sekali, sebagian besar tak berfaedah (apa sih yang bisa dibicarakan anak SMA?), lalu kalau sudah tidak ada topik, kami diam melihat jalan, lampu, dan kendaraan yang lewat.

Sudah lama sekali sejak aku membiarkan pikiran berkelana, tanpa diikat oleh ide atau tujuan. Tanpa memikirkan aktivitas yang harus dijalani, secara murni mengobservasi apapun yang dibiarkan semesta lewat di depan mata. Dan sesungguhnya, kemarin, aku kangen. Dunia berlalu begitu cepat, Youtube dan Instagram sungguh memakan tempat, hingga untuk menemukan momen seperti ini, harus ada gabungan kejadian pintu susah dibuka, Husa pulang malam, dan batre HP sekarat. Haha.

Aku tidak tahu berapa menit telah kuhabiskan melamun, sampai seorang Bapak mencari si Abang bakso. Ternyata si Abang pergi saat aku sedang tidak memperhatikan. Bapak itu kemudian mengambil tusuk sate dan mengambil sendiri baksonya. Lima menit berlalu, ada lagi orang yang mau beli bakso. Weew.

Aku masuk ke dalam Alfamart, siapa tau abangnya di sana. Ternyata tidak. Yang ada, karyawan Alfamart jadi ikut-ikutan mencari si abang di luar. Kuambil chargerku, menelpon Husa, syukurlah dia sudah pulang. Kuarahkan langkahku ke rumah, sambil berharap semoga, sama seperti aku menemukan lagi momen yang kurindukan, mereka bisa segera menemukan si abang.