Fog

Some say grief is like cloud

They come and cover the sun

So you might not feel the warm

But no

Grief is like fog

It inhibits you to see everything else
Grayness

Cold

Despair

Meaningless

When your life is tied up onto a stick

And now it is taken away

Aren’t you feel like floating on the ocean?

To grief is to embrace aloneness

Because only little can comprehend

And you could not blame anyone

But through grief one can understand

That he is a winner

Of that single battle

*

Hey, fog will be lifted up

You’ll see beauty once more
.

.

.

Just wait, patiently.



Makassar, 11 months after

Advertisements

Angpaw

Di suatu masa hiduplah seekor ulat kecil

Dia merayap dari satu pohon ke pohon lain

Menggigiti hijau daun dan ranting
Suatu hari matahari tersenyum terik

Padahal ulat ini berharap hujan rintik

Ah, ini bukan hari yang baik

 

Ulat pun berteduh

Di bawah pepohonan dan daun yang riuh

Ia menunggu sore dengan berpeluh

 

Pikirnya, sore hari pasti indah

Saat terik matahari mereda

Dan senja memancarkan cahaya berwarna jingga

 

Namun langit kembali tak berpihak

Titik air hujan menetes serentak

Ah, hari macam apa ini, keluhnya berontak

 

Bintang pun muncul

Ulat menutup hari dengan menggerutu

Dengan hati yang muram dan biru

*

Di hari yang sama seekor merpati terbang

Ia mengangkasa di tengah panas yang menyerang

Aku ingin hari mendung, tapi tak mengapa, pikirnya

Matahari siang ini membantuku mencari mangsa

 

Sore hari saat hujan turun

Ia kembali ke sarang yang rimbun

Di sana anaknya menggerutu tak melihat matahari tenggelam dengan anggun

Dengan kicaunya ia mengalun,

 

Anakku, hidup sering tak sesuai dengan harapan

Engkau berharap hari panas namun yang datang hujan

Tapi bukankah engkau malah bisa bermain dengan rintiknya?

Dan harum setelah rintik itu, bukankah itu aroma yang menyenangkan?

 

Anakku, engkau bisa menemukan sejuta alasan untuk mengeluh

Namun engkau pun bisa menemukan sejuta alasan untuk bersyukur

 

*

P. S.

Nggi, angpaw terbaik dalam hidup bukanlah isi amplop merah, tapi rasa syukur dan rasa cukup

Karena isi amplop merah masih bisa membuatmu merasa kurang, tapi rasa syukur dan rasa cukup membuatmu terus bahagia

Dear 2017

Dear 2017, thank you for being such a wonderful year! Through you I learnt how to handle grief, how to lean my hope on God only. I learnt that my attention span is quite short, that leadership needs to be cultivated since childhood otherwise one’s life will be difficult, that people is not 100% honest, even to theirselves.

Thank you for the roller coaster. It’s still unbelievable that a graduation, losing mom, getting the first job in other island, finding best mindmate and losing him, handling a growing ministry, resignation from the first job, moving to the second, getting healed from old wounds, realizing an Eden, all happen in a year. Continue reading

Altar alters

“Mel selevel kamu harusnya bisa dapet kerjaan yang lebih sih”

“Ga kepikiran buat pindah dari Makassar?”

*

I know, guys. Been thinking about this a whole week, and praise God He gives me more than I needed.

Hey, sori kalo lompat. Mungkin banyak yang belum tau kalo saya resign dari kerjaan lama. Kenapa resign? Well there’ll be another post to explain.┬áDan resmi diri ini jadi pengangguran, yang tak lepas dari kegalauan. Eaa. Saya melewati kok masa-masa “apakah aku cuma bisa belajar aja di sekolah dan ga cocok kerja”, “kenapa aku udah effort banyak dan tetap ga bisa perform”, “salah ga sih aku resign”, “kerjaan mana lagi di Makassar yang seenak kerjaan kemarin”, “sekarang kamu mau ngapain coba Mel”, dsb dsb. Pikiran-pikiran jelek yang mengusik gambar diri terus menggantung di atas kepala. Continue reading