Our Life – Before and After

Before

Sejak sepuluh tahun lalu mama terkena diabetes.

Tahun 2016, Monita masuk ke tahun keduanya di Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Monika masuk tahun ketiganya di Pertambangan ITB, sedangkan saya masih mengerjakan tugas akhir di Manajemen Rekayasa Industri ITB. Mama adalah seseorang yang tidak bisa sendirian, jadi mama sering berpindah-pindah dari Jogja, Solo, Sukoharjo, dan Kudus.

Oktober 2016, mama kena stroke ringan. Waktu denger kabarnya, saya nangis berat, takut mama ga bisa sampe saya wisuda. Setelah diperiksa, ternyata kreatinin dan ureum mama tinggi, tapi masih dalam kondisi aman.

Continue reading

Advertisements

This is How We Remember Her

Singkatnya, mama adalah ISFJ—Melankolis Plegmatis. Mama selalu merencakan segala hal mengenai orang lain. Orang lain ini terutama keluarganya: suami, mertua, saudara kandung, anak-anaknya, keponakannya, anak keponakannya, pasangan keponakannya, tetangga dekat, sahabat, banyak banget orang yang dipikirkan mama. Mungkin karena terlalu banyak memikirkan orang lain, mama jadi ngga sempat memikirkan dirinya sendiri. Suatu saat di antara kami pernah ada percakapan seperti ini:

Saya: Ma, mama dalam hidup ini paling senang waktu apa?

Mama: Ya, waktu anak-anaknya bisa menang lomba, waktu bisa masuk Loyola, ITB, sama UGM..

Saya: Lah kok semua tentang anaknya..

Mama: Lha iya memang, memang semua tentang anaknya

Saya: :””””

*

Mama adalah pribadi yang kuat. Engkong sakit waktu mama masih SD, well, mama ikut ngerawat engkong. Karena satu dan lain hal, mama ngga bisa melanjutkan sekolah sampai SMA. Sebagai gantinya, mamaberkomitmen menyekolahkan adik-adiknya, sampai akhirnya tante saya mendapat gelar sarjana.

Dalam perjalanan hidup selanjutnya, mama pernah ditipu orang, diremehkan, diusir, terlibat permasalahan finansial, but yeah, tiap kali saya atau adik bertanya, mama nggamau menjawab. Kata mama, mama ngga mau anaknya ikut kepikiran. Heftt. Kadang saat mama cerita kejadian yang jaman dulu, saya jadi sebel sendiri. Kenapa deh banyak orang bisa sejahat, se-stupid, se-tidak tahu berterimakasih itu *ngetik sambil menahan emosi*

Di hari-hari terakhirnya, mama pernah bilang ke saya,” Ce, kamu yang kuat ya, adik yang kuat juga, tante juga.”

Dan saya menjawab,”Iya ma, mama nya aja kuat pasti menurun ke anaknya.”

*

Di luar, mama saya terlihat pendiam, jarang banget berpendapat. Tapi saat ia ditanya akan sesuatu, ia bisa memberikan saran yang luar biasa rinci. Kalo Tante bilang, mama adalah penasihat ajaib. Semua yang mama sarankan benar-benar mantap jaya.

Dulu saya sering berpikir nasihat mama kadang-kadang terlalu kaku, kan zaman sudah berubah. But well, dengan motif ketaatan saya ikutin aja saran mama walaupun dalam hati agak sebal. Eh ternyata beneran, yang mama bilang beneran kejadian. :””

*

Mama mencintai anak-anaknya apa adanya. Adik saya sering curhat masalah pelajaran ke mama. Kalau adik dapat nilai jelek, mama selalu bilang yaudah nggapapa. Kalau dapat nilai bagus, mama bilang, puji Tuhan kamu dapat kasih karunia.

Saya sendiri adalah anak yang paling sering bertengkar sama mama. Hal ini terutama diakibatkan oleh pola pikir kami yang berbeda. Mama berpikir seperti orang timur yang, ada maksud dibalik maksud dibalik maksud. Sementara saya berpikir seperti orang barat yang to the point.

Suatu kali, saya mau bikin bisnis, tapi mama ga setuju. Kami berdebat sampai mama menangis, dan bodohnya, saya pasang muka datar. Kalau saja ada mesin waktu, saya akan kembali ke masa itu dan menampar diri saya di masa lalu agar sadar.

Untungnya, beberapa minggu sebelum mama pergi, saya yang sedang merawat mama sadar bahwa saya berkali-kali menyakiti hati Mama. Saya pun berkata seperti ini,” Ma, cece banyak salah sama mama. Cece minta maaf. Maafin cece ya.”

Tebak, apa jawabannya?

“Iya nggak papa, mama nggak papa, yang penting kamu berubah.”

*

Dua hari setelah mama dikremasi, saya di-chat seorang teman. Dia bertanya bagaimana perasaan saya saat ini, apakah saya sudah mengalami fase kesedihan mendalam. Selama beberapa detik saya berpikir dan membandingkan dengan kejadian papa. Sepertinya saya melewatkan fase itu, atau itu hanya berlangsung saat saya berada di detik-detik kepergian mama.

After all, it’s fine. Saat ini, saya merasa jauh lebih dekat dengan mama—entah mengapa. Hal ini seperti, well, pemikiran dan pengajaran mama ada di hati saya. Yang dikremasi hanyalah tubuh Mama, sementara warisan-warisan mama tetap ada di hati, dan pada akhirnya saya akan berjumpa dengan beliau lagi kelak di kekekalan. Sebenarnya saya tidak se-berpisah itu dengan mama.

 

Dan well, sampai waktunya tiba,

hal-hal menakjubkan inilah yang akan selalu saya ingat mengenai mama.

5 Alasan Mengapa Loyola Adalah SMA yang Tepat untuk Anak Anda

Loyola bukan segala-galanya, namun segala-galanya berawal dari Loyola.

Itu adalah quotes yang sering saya dengar ketika masuk ke SMA Kolese Loyola Semarang. Waktu itu saya bingung, kenapa orang-orang ini ‘fanatik’ banget sama Loyola. Kayaknya semua sekolah juga sama-sama aja deh. Emang ini sekolah sebagus apa sih.

Well, I was lucky to be there, I just didn’t realize it yet back then.

Tiga tahun berlalu dan setelah lulus saya mulai mengerti alasan di balik quotes itu. Susah sekali dijabarkan, tapi ada perasaan bangga-bahagia-kangen-manis-ceria-haru ketika mendengar nama ‘Loyola’. Perasaan yang sulit dideskripsikan itu coba saya strukturkan, dan semoga setelah membaca artikel ini Anda tahu ke SMA mana Anda akan menyekolahkan anak anda.

  1. Loyola akan membuat masa SMA anak anda tak terlupakan

Masuk ke Loyola bagaikan masuk ke film Alice in Wonderland. Well, para KEKL (Keluarga Eks Kolese Loyola) pasti setuju. Di minggu pertama sekolah, anak anda akan mengikuti rangkaian proses orientasi (re: Popsila). Pada proses ini, anak-anak baru akan berada di sekolah dari siang sampai sore, di pagi hari akan ada materi oleh guru, di siang hari ada materi oleh kakak kelas (re: orator). Yang seru, jelas, adalah kegiatan di siang hari. Murid baru harus mengikuti ‘games’ yang benar-benar menguras mental dan fisik, tapi pada akhirnya tercipta banyak cerita manis yang bisa diingat. Di tiap popsila, kami diajari mars tahun itu yang harus dihapalkan. This march is another interesting stuff. Setelah lewat masa Popsila, kami mulai diajari mars-mars tahun sebelumnya. Saya yang bukan aktivis sekolah aja sampai hapal mars dari Popsila 2007 sampai 2012 wkwkwkwk.

Continue reading

An Imaginary Conversation

An imaginary conversation, between myself three years ago (A) and myself now (N)

*

A:  Hi, myself!

N: Hi, the younger version of me! How are you?

A: Well, I’m kind of busy organizing my schedule. I have an appointment this afternoon with one of my disciple, but she suddenly cancelled it an hour ago. She should have known that I’ve scheduled everything, argh. If only she said it earlier, I would arrange another work to do. Now I have no plan for this afternoon.

N: That’s good.

A: What do you mean by good? I’m unproductive!

Continue reading

Langit Yang Cerah Untuk Jiwa Yang Sepi

“Kalau udah sampe berhalusinasi gitu, udah bahaya sih, Mel. Berarti ureumnya udah sampai ke otak. Harus cepat diambil tindakan, kalau engga bisa ngga sadar. Menurutku harus HD, tapi nunggu keadaannya membaik,” jelas Billy, teman dari SD sampai SMA yang sekarang jadi mahasiswa fakultas kedokteran UNS. Saat itu, kami sudah dua puluh menitan telponan, membicarakan kondisi mama yang memburuk. Secara umum Billy menjelaskan bagaimana diabetes membuat ginjal mama mengalami penurunan fungsi, dan kalo ureum udah mencapai 135 walaupun kreatininnya masih 8, itu udah harus HD.

Dokter pasti ga mau mengambil keputusan buat HD karena HD itu seperti gambling, ada yang bisa meneruskan hidup, tapi ada juga yang meninggal karena kondisi tubuhnya ngga kuat pas di HD. Dokter ga bisa mengambil risiko moral kaya gitu, terlalu susah, jadi dia pasti serahkan ke keluarga. Billy menambahkan kalo mau HD, harus menunggu kondisi mama membaik dulu. Glukosa, hb, tekanan darah, dan elektrolit harus bagus. Nah ini yang susah, karena mama punya diabetes. Hmm.

Continue reading

Manajemen Rekayasa Industri Setelah Lulus (Danamon Development Program)

Hi guys karena di stats blog keliatan kalau lagi banyak orang galau jurusan, saya membuat beberapa post spesial tentang prospek kerja MRI setelah lulus. Karena saya sendiri belum kerja permanen, post-post ini bakal ditulis sama temen-temen MRI 2012 yang udah kerja. So the author of this first post is Moza Adidharma (below is his pic) yang lagi ikut Danamon Development Program, well happy reading!

Continue reading

Ceri(TA) puluhan orang, Tuhan, dan saya – Part 5

Welcome to the last episode of my TA series!

Episode ini didedikasikan untuk semua orang yang telah membantu pengerjaan TA dalam setahun ke belakang, mewarnai tiap kesulitan-kemalasan-kemageran yang saya alami dengan ucapan semangat dan pertolongan penuh arti.

As you can see, a lot of people are included here:

Ucapan terimakasih juga saya sampaikan untuk yang datang dan mendukung sidang TA saya walaupun jadi harus bangun pagi: Kak Andry Yanuar (COO Kiwari Farmers), Betty Silalahi, Ilham Reza, Florentin Anggraini, Inado Grace, adik tercinta, dan Yudianto Soeharli. Terima kasih juga untuk coklat dan foto-foto sehabis sidang: Kak Yahya, Kak Jun, Vania Elita, Kiki Siagian, Asima Despyona, Feren Jessica, Indri Astari, Krisna Sijabat, Mey Shelly, Iga Permata, Frans Silaban, Arinta Rosana, Trisna Sinaga, Yosia Manurun, Hans Charles dan Rheno yang tetap datang walaupun semalam kemarinnya nemenin sampe jam 3 di McD Setbud. Oh ya, dan Anugrah Rusdianto yang sudah membuat poster sidang, juga LPMRI 2013, keren banget poster-posternya!

So, ini adalah potongan-potongan adegan random bersama dosbing, CEO perusahaan TA, sahabat, dan dosen penguji. Happy reading!

Continue reading