Angpaw

Di suatu masa hiduplah seekor ulat kecil

Dia merayap dari satu pohon ke pohon lain

Menggigiti hijau daun dan ranting
Suatu hari matahari tersenyum terik

Padahal ulat ini berharap hujan rintik

Ah, ini bukan hari yang baik

 

Ulat pun berteduh

Di bawah pepohonan dan daun yang riuh

Ia menunggu sore dengan berpeluh

 

Pikirnya, sore hari pasti indah

Saat terik matahari mereda

Dan senja memancarkan cahaya berwarna jingga

 

Namun langit kembali tak berpihak

Titik air hujan menetes serentak

Ah, hari macam apa ini, keluhnya berontak

 

Bintang pun muncul

Ulat menutup hari dengan menggerutu

Dengan hati yang muram dan biru

*

Di hari yang sama seekor merpati terbang

Ia mengangkasa di tengah panas yang menyerang

Aku ingin hari mendung, tapi tak mengapa, pikirnya

Matahari siang ini membantuku mencari mangsa

 

Sore hari saat hujan turun

Ia kembali ke sarang yang rimbun

Di sana anaknya menggerutu tak melihat matahari tenggelam dengan anggun

Dengan kicaunya ia mengalun,

 

Anakku, hidup sering tak sesuai dengan harapan

Engkau berharap hari panas namun yang datang hujan

Tapi bukankah engkau malah bisa bermain dengan rintiknya?

Dan harum setelah rintik itu, bukankah itu aroma yang menyenangkan?

 

Anakku, engkau bisa menemukan sejuta alasan untuk mengeluh

Namun engkau pun bisa menemukan sejuta alasan untuk bersyukur

 

*

P. S.

Nggi, angpaw terbaik dalam hidup bukanlah isi amplop merah, tapi rasa syukur dan rasa cukup

Karena isi amplop merah masih bisa membuatmu merasa kurang, tapi rasa syukur dan rasa cukup membuatmu terus bahagia

Advertisements

Dear 2017

Dear 2017, thank you for being such a wonderful year! Through you I learnt how to handle grief, how to lean my hope on God only. I learnt that my attention span is quite short, that leadership needs to be cultivated since childhood otherwise one’s life will be difficult, that people is not 100% honest, even to theirselves.

Thank you for the roller coaster. It’s still unbelievable that a graduation, losing mom, getting the first job in other island, finding best mindmate and losing him, handling a growing ministry, resignation from the first job, moving to the second, getting healed from old wounds, realizing an Eden, all happen in a year. Continue reading

Altar alters

“Mel selevel kamu harusnya bisa dapet kerjaan yang lebih sih”

“Ga kepikiran buat pindah dari Makassar?”

*

I know, guys. Been thinking about this a whole week, and praise God He gives me more than I needed.

Hey, sori kalo lompat. Mungkin banyak yang belum tau kalo saya resign dari kerjaan lama. Kenapa resign? Well there’ll be another post to explain. Dan resmi diri ini jadi pengangguran, yang tak lepas dari kegalauan. Eaa. Saya melewati kok masa-masa “apakah aku cuma bisa belajar aja di sekolah dan ga cocok kerja”, “kenapa aku udah effort banyak dan tetap ga bisa perform”, “salah ga sih aku resign”, “kerjaan mana lagi di Makassar yang seenak kerjaan kemarin”, “sekarang kamu mau ngapain coba Mel”, dsb dsb. Pikiran-pikiran jelek yang mengusik gambar diri terus menggantung di atas kepala. Continue reading

9 Kenangan Manis di Bawah Langit Makassar

Post ini harusnya udah published 2 taun lalu, pls forgive my procrastination guys. Mood is a very good friend but the worst enemy, huft. And now after all mess and furious in this life (sok-sokan banget berasa hidup udah paling susah sedunia wkwkwk), finally I could sit in a beatiful coffee shop, put my self together, and start writing.  This is the second part of my KP story, if you want to read the first, click this link: Makassar, Here I Come!. Welcome aboard.

1. Melihat Langit.
Seriously, Mel. What is the sweet part of just “Melihat Langit?” you may ask. Well, I’m serious. Langit Makassar tuh yah, kayak kanvas yang dilukis sendiri sama Tuhan. Bagus, cantik, dan beda-beda tiap hari. Take a peek here. Continue reading