Raindrops

A traveller thought he had walked so long

Cities, villages

Skyscraper, underground cave

Each brings different story, story he would never forget

 

The traveller thought he has tasted so much

Pain, excitement

Restlessness, joy

He thought he had enough

 

In a cloudy day, he stood tall

Then raindrops fell down

His bare skin recognized the old friend

The same raindrops has come again Continue reading

Soulmate

I don’t believe in one

Because what I thought the one was leaving

And put me in a misery year

 

I kept talking to myself

“It is fine, you’ll find another.”

“Maybe you misheard what God said about him, but it’s fine”

“He has chosen, so have you. Choose to love your life.”

 

But things didn’t get better so I spoke louder

“Damn it can’t you let your feelings go?”

“Will you stop crying like a baby? It’s been like 8 months, and you have to finish your final assignment!”

 

But sometimes myself blames me for more

“Shit, why should you meet him in the first time? Why didn’t you just pass him by, so he didn’t even have any chance to talk to you?”

“IT HURTS! CAN YOU STOP TELLING ME WHAT TO DO? YOU DON’T KNOW WHAT I FEEL!”

Continue reading

H+42

Mourning

These are another imaginary conversation with me and my observer self regarding all mourning for the loss. It was not an easy road, but yeah, that’s life. Enjoy 🙂

Hi, what’s up?

Hmm, mixed up.

This never occurs in my mind, that coping with loss will be this painful. It’s not an overstating. Faith and encouragement come, but when we fail to look upon God, heavy mood begins to enter the heart. The tug-of-war between these extremes (faith and mood) is unavoidable, and often exhausting. It’s like you experience personal explosions inside your body, day by day, unseen by the other people. Terribly exhausting.

Continue reading

Terima Kasih !

The loss of loved one is a huge deal, especially when she accounts for 50% of your existence reason. When we couldn’t stand, we thank God for every supportive hand, every encouragement, every text message, every call, every shared tears, and every wise advice. Those really help us to face the future.

My deepest gratitude belongs to:

Continue reading

Our Life – Before and After

Before

Sejak sepuluh tahun lalu mama terkena diabetes.

Tahun 2016, Monita masuk ke tahun keduanya di Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Monika masuk tahun ketiganya di Pertambangan ITB, sedangkan saya masih mengerjakan tugas akhir di Manajemen Rekayasa Industri ITB. Mama adalah seseorang yang tidak bisa sendirian, jadi mama sering berpindah-pindah dari Jogja, Solo, Sukoharjo, dan Kudus.

Oktober 2016, mama kena stroke ringan. Waktu denger kabarnya, saya nangis berat, takut mama ga bisa sampe saya wisuda. Setelah diperiksa, ternyata kreatinin dan ureum mama tinggi, tapi masih dalam kondisi aman.

Continue reading

This is How We Remember Her

Singkatnya, mama adalah ISFJ—Melankolis Plegmatis. Mama selalu merencakan segala hal mengenai orang lain. Orang lain ini terutama keluarganya: suami, mertua, saudara kandung, anak-anaknya, keponakannya, anak keponakannya, pasangan keponakannya, tetangga dekat, sahabat, banyak banget orang yang dipikirkan mama. Mungkin karena terlalu banyak memikirkan orang lain, mama jadi ngga sempat memikirkan dirinya sendiri. Suatu saat di antara kami pernah ada percakapan seperti ini:

Saya: Ma, mama dalam hidup ini paling senang waktu apa?

Mama: Ya, waktu anak-anaknya bisa menang lomba, waktu bisa masuk Loyola, ITB, sama UGM..

Saya: Lah kok semua tentang anaknya..

Mama: Lha iya memang, memang semua tentang anaknya

Saya: :””””

*

Mama adalah pribadi yang kuat. Engkong sakit waktu mama masih SD, well, mama ikut ngerawat engkong. Karena satu dan lain hal, mama ngga bisa melanjutkan sekolah sampai SMA. Sebagai gantinya, mamaberkomitmen menyekolahkan adik-adiknya, sampai akhirnya tante saya mendapat gelar sarjana.

Dalam perjalanan hidup selanjutnya, mama pernah ditipu orang, diremehkan, diusir, terlibat permasalahan finansial, but yeah, tiap kali saya atau adik bertanya, mama nggamau menjawab. Kata mama, mama ngga mau anaknya ikut kepikiran. Heftt. Kadang saat mama cerita kejadian yang jaman dulu, saya jadi sebel sendiri. Kenapa deh banyak orang bisa sejahat, se-stupid, se-tidak tahu berterimakasih itu *ngetik sambil menahan emosi*

Di hari-hari terakhirnya, mama pernah bilang ke saya,” Ce, kamu yang kuat ya, adik yang kuat juga, tante juga.”

Dan saya menjawab,”Iya ma, mama nya aja kuat pasti menurun ke anaknya.”

*

Di luar, mama saya terlihat pendiam, jarang banget berpendapat. Tapi saat ia ditanya akan sesuatu, ia bisa memberikan saran yang luar biasa rinci. Kalo Tante bilang, mama adalah penasihat ajaib. Semua yang mama sarankan benar-benar mantap jaya.

Dulu saya sering berpikir nasihat mama kadang-kadang terlalu kaku, kan zaman sudah berubah. But well, dengan motif ketaatan saya ikutin aja saran mama walaupun dalam hati agak sebal. Eh ternyata beneran, yang mama bilang beneran kejadian. :””

*

Mama mencintai anak-anaknya apa adanya. Adik saya sering curhat masalah pelajaran ke mama. Kalau adik dapat nilai jelek, mama selalu bilang yaudah nggapapa. Kalau dapat nilai bagus, mama bilang, puji Tuhan kamu dapat kasih karunia.

Saya sendiri adalah anak yang paling sering bertengkar sama mama. Hal ini terutama diakibatkan oleh pola pikir kami yang berbeda. Mama berpikir seperti orang timur yang, ada maksud dibalik maksud dibalik maksud. Sementara saya berpikir seperti orang barat yang to the point.

Suatu kali, saya mau bikin bisnis, tapi mama ga setuju. Kami berdebat sampai mama menangis, dan bodohnya, saya pasang muka datar. Kalau saja ada mesin waktu, saya akan kembali ke masa itu dan menampar diri saya di masa lalu agar sadar.

Untungnya, beberapa minggu sebelum mama pergi, saya yang sedang merawat mama sadar bahwa saya berkali-kali menyakiti hati Mama. Saya pun berkata seperti ini,” Ma, cece banyak salah sama mama. Cece minta maaf. Maafin cece ya.”

Tebak, apa jawabannya?

“Iya nggak papa, mama nggak papa, yang penting kamu berubah.”

*

Dua hari setelah mama dikremasi, saya di-chat seorang teman. Dia bertanya bagaimana perasaan saya saat ini, apakah saya sudah mengalami fase kesedihan mendalam. Selama beberapa detik saya berpikir dan membandingkan dengan kejadian papa. Sepertinya saya melewatkan fase itu, atau itu hanya berlangsung saat saya berada di detik-detik kepergian mama.

After all, it’s fine. Saat ini, saya merasa jauh lebih dekat dengan mama—entah mengapa. Hal ini seperti, well, pemikiran dan pengajaran mama ada di hati saya. Yang dikremasi hanyalah tubuh Mama, sementara warisan-warisan mama tetap ada di hati, dan pada akhirnya saya akan berjumpa dengan beliau lagi kelak di kekekalan. Sebenarnya saya tidak se-berpisah itu dengan mama.

 

Dan well, sampai waktunya tiba,

hal-hal menakjubkan inilah yang akan selalu saya ingat mengenai mama.