This is How We Remember Her

Singkatnya, mama adalah ISFJ—Melankolis Plegmatis. Mama selalu merencakan segala hal mengenai orang lain. Orang lain ini terutama keluarganya: suami, mertua, saudara kandung, anak-anaknya, keponakannya, anak keponakannya, pasangan keponakannya, tetangga dekat, sahabat, banyak banget orang yang dipikirkan mama. Mungkin karena terlalu banyak memikirkan orang lain, mama jadi ngga sempat memikirkan dirinya sendiri. Suatu saat di antara kami pernah ada percakapan seperti ini:

Saya: Ma, mama dalam hidup ini paling senang waktu apa?

Mama: Ya, waktu anak-anaknya bisa menang lomba, waktu bisa masuk Loyola, ITB, sama UGM..

Saya: Lah kok semua tentang anaknya..

Mama: Lha iya memang, memang semua tentang anaknya

Saya: :””””

*

Mama adalah pribadi yang kuat. Engkong sakit waktu mama masih SD, well, mama ikut ngerawat engkong. Karena satu dan lain hal, mama ngga bisa melanjutkan sekolah sampai SMA. Sebagai gantinya, mamaberkomitmen menyekolahkan adik-adiknya, sampai akhirnya tante saya mendapat gelar sarjana.

Dalam perjalanan hidup selanjutnya, mama pernah ditipu orang, diremehkan, diusir, terlibat permasalahan finansial, but yeah, tiap kali saya atau adik bertanya, mama nggamau menjawab. Kata mama, mama ngga mau anaknya ikut kepikiran. Heftt. Kadang saat mama cerita kejadian yang jaman dulu, saya jadi sebel sendiri. Kenapa deh banyak orang bisa sejahat, se-stupid, se-tidak tahu berterimakasih itu *ngetik sambil menahan emosi*

Di hari-hari terakhirnya, mama pernah bilang ke saya,” Ce, kamu yang kuat ya, adik yang kuat juga, tante juga.”

Dan saya menjawab,”Iya ma, mama nya aja kuat pasti menurun ke anaknya.”

*

Di luar, mama saya terlihat pendiam, jarang banget berpendapat. Tapi saat ia ditanya akan sesuatu, ia bisa memberikan saran yang luar biasa rinci. Kalo Tante bilang, mama adalah penasihat ajaib. Semua yang mama sarankan benar-benar mantap jaya.

Dulu saya sering berpikir nasihat mama kadang-kadang terlalu kaku, kan zaman sudah berubah. But well, dengan motif ketaatan saya ikutin aja saran mama walaupun dalam hati agak sebal. Eh ternyata beneran, yang mama bilang beneran kejadian. :””

*

Mama mencintai anak-anaknya apa adanya. Adik saya sering curhat masalah pelajaran ke mama. Kalau adik dapat nilai jelek, mama selalu bilang yaudah nggapapa. Kalau dapat nilai bagus, mama bilang, puji Tuhan kamu dapat kasih karunia.

Saya sendiri adalah anak yang paling sering bertengkar sama mama. Hal ini terutama diakibatkan oleh pola pikir kami yang berbeda. Mama berpikir seperti orang timur yang, ada maksud dibalik maksud dibalik maksud. Sementara saya berpikir seperti orang barat yang to the point.

Suatu kali, saya mau bikin bisnis, tapi mama ga setuju. Kami berdebat sampai mama menangis, dan bodohnya, saya pasang muka datar. Kalau saja ada mesin waktu, saya akan kembali ke masa itu dan menampar diri saya di masa lalu agar sadar.

Untungnya, beberapa minggu sebelum mama pergi, saya yang sedang merawat mama sadar bahwa saya berkali-kali menyakiti hati Mama. Saya pun berkata seperti ini,” Ma, cece banyak salah sama mama. Cece minta maaf. Maafin cece ya.”

Tebak, apa jawabannya?

“Iya nggak papa, mama nggak papa, yang penting kamu berubah.”

*

Dua hari setelah mama dikremasi, saya di-chat seorang teman. Dia bertanya bagaimana perasaan saya saat ini, apakah saya sudah mengalami fase kesedihan mendalam. Selama beberapa detik saya berpikir dan membandingkan dengan kejadian papa. Sepertinya saya melewatkan fase itu, atau itu hanya berlangsung saat saya berada di detik-detik kepergian mama.

After all, it’s fine. Saat ini, saya merasa jauh lebih dekat dengan mama—entah mengapa. Hal ini seperti, well, pemikiran dan pengajaran mama ada di hati saya. Yang dikremasi hanyalah tubuh Mama, sementara warisan-warisan mama tetap ada di hati, dan pada akhirnya saya akan berjumpa dengan beliau lagi kelak di kekekalan. Sebenarnya saya tidak se-berpisah itu dengan mama.

 

Dan well, sampai waktunya tiba,

hal-hal menakjubkan inilah yang akan selalu saya ingat mengenai mama.

Advertisements

Langit Yang Cerah Untuk Jiwa Yang Sepi

“Kalau udah sampe berhalusinasi gitu, udah bahaya sih, Mel. Berarti ureumnya udah sampai ke otak. Harus cepat diambil tindakan, kalau engga bisa ngga sadar. Menurutku harus HD, tapi nunggu keadaannya membaik,” jelas Billy, teman dari SD sampai SMA yang sekarang jadi mahasiswa fakultas kedokteran UNS. Saat itu, kami sudah dua puluh menitan telponan, membicarakan kondisi mama yang memburuk. Secara umum Billy menjelaskan bagaimana diabetes membuat ginjal mama mengalami penurunan fungsi, dan kalo ureum udah mencapai 135 walaupun kreatininnya masih 8, itu udah harus HD.

Dokter pasti ga mau mengambil keputusan buat HD karena HD itu seperti gambling, ada yang bisa meneruskan hidup, tapi ada juga yang meninggal karena kondisi tubuhnya ngga kuat pas di HD. Dokter ga bisa mengambil risiko moral kaya gitu, terlalu susah, jadi dia pasti serahkan ke keluarga. Billy menambahkan kalo mau HD, harus menunggu kondisi mama membaik dulu. Glukosa, hb, tekanan darah, dan elektrolit harus bagus. Nah ini yang susah, karena mama punya diabetes. Hmm.

Continue reading