Altar alters

“Mel selevel kamu harusnya bisa dapet kerjaan yang lebih sih”

“Ga kepikiran buat pindah dari Makassar?”

*

I know, guys. Been thinking about this a whole week, and praise God He gives me more than I needed.

Hey, sori kalo lompat. Mungkin banyak yang belum tau kalo saya resign dari kerjaan lama. Kenapa resign? Well there’ll be another post to explain. Dan resmi diri ini jadi pengangguran, yang tak lepas dari kegalauan. Eaa. Saya melewati kok masa-masa “apakah aku cuma bisa belajar aja di sekolah dan ga cocok kerja”, “kenapa aku udah effort banyak dan tetap ga bisa perform”, “salah ga sih aku resign”, “kerjaan mana lagi di Makassar yang seenak kerjaan kemarin”, “sekarang kamu mau ngapain coba Mel”, dsb dsb. Pikiran-pikiran jelek yang mengusik gambar diri terus menggantung di atas kepala.

 

Sebenernya, ada tawaran kerjaan yang cukup pas tapi… saya lulusan ITB.

Lulusan ITB lain ngga segitu gajinya… Padahal saya udah berjuang di kuliah dan lulus dari Sabuga… Apa nanti kata orang…

*

“Ga kepikiran buat pindah dari Makassar?”

*

Yaaah, semua akan lebih mudah kalau saya pindah dari kota ini. Yah tapi gimana yah, namanya juga panggilan. Heellll, but still, susah banget sih emang meredam kegelisahan di dalam kepala ini.. Kegelisahan karena bisa terlihat bodoh di pandangan orang.. Dan ngga sesuai standar fresh graduates ITB.. Dan itu menyakiti.. ego saya.

Hmm, ternyata kepusingan ini terjadi.. karena ego. Ingin terlihat wah di depan orang lain. Ingin terlihat diberkati. Biar punya cukup duit buat makan di tempat yang enak. Standar diri digantungkan lagi dari apa kata orang. Jeez.

*

31JFYh-6hnL._SY344_BO1,204,203,200_

Dan Tuhan kembali menemukan saya lewat Altar Ego. Thanks to Craig Groeschel yang udah menulis, also thanks to Bang Hans yang udah beli buku ini. Di sini dijelaskan bahwa saya baru bisa menemukan diri saya sebenarnya saat meletakkan ego di atas altar. Ego bisa berbentuk keinginan untuk terlihat baik, keinginan untuk memenuhi standar absurd dunia, keinginan untuk diterima orang lain, bahkan obsesi terhadap kenyamanan.

Kalo lo mainnya gereja mulu kapan lo punya waktu buat main?

Gaji fresh graduates ITB tu biasanya segini..

Udah umur segitu belum punya pacar juga? Kapan mau nikah?

*

Akhir-akhir ini belajar bahwa saya bahagia bukan saat memenuhi ego saya, namun sebaliknya, saat saya meletakkannya di altar. Saat label “ITB” dihilangkan, label “pekerjaan gaji tinggi” dihilangkan, saya mulai melihat berkat Tuhan yang lain. Altar alters.

Berada di tengah-tengah anak pelayanan, tertawa karena tingkah lucu mereka, ternyata memberikan kebahagiaan spesifik yang belum pernah saya perhatikan sebelumnya.

Saya jadi mikir, kayaknya saya ngga butuh kekayaan. Yang penting ada tempat buat tidur dan makanan tiap hari, bisa nyekolahin anak (kalo nikah wkwk), udah cukup. Bukankah yang lebih penting sebenarnya adalah rasa cukup? Contentment matters over wealth.

Dulu saya berpikir kalo rasa cukup bisa diperoleh saat seseorang mendapatkan yang ia inginkan. Tapi kalau dilihat-lihat, banyak juga orang kaya yang ga bahagia.

*

Trus, gimana seseorang bisa berkembang kalau dia udah merasa cukup?

I presume, that’s the point of being grateful, saat keinginan untuk berkembang bukan lagi didasari oleh kekurangan, tapi rasa syukur.

*

Oh really. Saya tidak pernah berpikir bisa mendapatkan ketenangan di kondisi yang tidak jelas seperti ini. Only Christ could make this possible. Emang ga bisa dibandingkan sama Paulus sih, but I guess this verse best describes me right now:

Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Advertisements

4 thoughts on “Altar alters

  1. Mel tadi kk ga sengaja baca quotes ini “don’t trade God’s timing for your deadline”
    Masa-masa ga enak sih memang menunggu terlihatnya rencanaNya tapi di waktuNya pasti terlihat baik. Jangan terlalu pusingan sama deadline manusia/deadline dunia ini. Pengaturan waktuNya terbaik. God loves you thank you for powerful MESS-age 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s