Our Life – Before and After

Before

Sejak sepuluh tahun lalu mama terkena diabetes.

Tahun 2016, Monita masuk ke tahun keduanya di Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Monika masuk tahun ketiganya di Pertambangan ITB, sedangkan saya masih mengerjakan tugas akhir di Manajemen Rekayasa Industri ITB. Mama adalah seseorang yang tidak bisa sendirian, jadi mama sering berpindah-pindah dari Jogja, Solo, Sukoharjo, dan Kudus.

Oktober 2016, mama kena stroke ringan. Waktu denger kabarnya, saya nangis berat, takut mama ga bisa sampe saya wisuda. Setelah diperiksa, ternyata kreatinin dan ureum mama tinggi, tapi masih dalam kondisi aman.

Desember 2016, kami berkumpul di jogja untuk natal bersama. Mama mulai muntah-muntah dan sulit makan selama beberapa hari, sehingga kami membawa mama ke rumah sakit. Di rumah sakit, terungkaplah bahwa kreatinin mama naik menjadi 6. Artinya kemampuan ginjal mama menurun. Kalo 8 biasa harus cuci darah. Pulang dari RS mama masih mual-mual, tapi menjadi lebih baik.

Mama dirawat di rumah, lalu pindah ke rumah tante yang di Solo. Di sana, mama kembali muntah-muntah sehingga dimasukkan lagi ke RS Dr. Oen. Kreatinin mama diidentifikasi menjadi 7. Setelah diberi obat, mama menjadi lebih baik dan pulang lagi ke Jogja.

Februari 2017, mama kembali masuk ke RS, dan inilah hal yang terjadi :

Mama menjadi lebih baik dan dirawat di rumah, namun setelah beberapa minggu, mama mengalami pendarahan lewat bawah.

11 Maret 2017, mama masuk RS lagi, dokter melakukan transfusi tiap hari. Namun pendarahan mama semakin parah sehingga transfusi tidak lagi menolong. Sejak 14 Maret 2017, kesadaran mama mulai menurun. Mama mulai berhalusinasi, lalu tidak dapat berbicara, lalu memejamkan mata. Dini hari tanggal 15 Maret, napas mama mulai tersengal-sengal sehingga mama diberi infus napas. DI sini agak ketahuan bahwa pendarahan mama berasal dari jaringn lambung yang meluruh.

Kondisi mama pagi itu semakin buruk. Napas menjadi satu-satu, tekanan darah di bawah 80/60.

Pukul 08.56, setelah diberi alat penaik tekanan darah, pemerkuat sinyal jantung, dan alat-alat lain yang saya ngga tau namanya, denyut nadi mama berhenti  😦

 

After

Banyak sekali air mata, banyak sekali. Monita cukup shock, ia lari ke luar ruangan, untung ada teman dari gereja yang bisa menenangkan Monita.

Tiba-tiba ada orang datang menawarkan peti mati, lalu Monita harus membuat surat izin supaya diperbolehkan tidak mengikuti UTS, barang-barang di RS dibereskan, saya pulang ke rumah, membawa baju-baju yang akan ditaruh di peti.

DI saat yang bersamaan saya perlu memastikan Monika bisa pulang cepat ke Jogja. Untung ada teman baik dari Sion Ministry yang bisa diandalkan untuk mengatur kepulangan Monika. Koordinasi, koordinasi, koordinasi.

Perlu menelpon keluarga di Kudus, teman-teman mama, teman-teman papa.

Chat-chat mulai menumpuk.

Saya dan Monita ke Galeria membelikan baju terakhir yang akan dipakai mama.

Perasaan yang muncul belum bisa dibereskan, tapi segala kegiatan ini menuntut agar otak terus berputar. Lelah sekali. Beruntung saya memiliki keluarga di Jogja. Tapi tetap saja, segala hal yang terjadi tiba-tiba ini begitu melelahkan.

Malam itu diadakan ibadah penghiburan, lalu besoknya kami ke rumah duka di Kudus, kemudian mama dikremasi.

Kenyataan semakin mendekat dan menyadarkan saya bahwa hidup ini tidak akan menjadi sama lagi. Saya bertanggung jawab bukan hanya atas diri saya. Finansial, surat-surat, kondisi mental adik, hal-hal yang dulu tidak pernah dipikirkan, harus dipikirkan haha :”.

Saat ini saya masih berusaha mencerna semuanya, semoga cepat terbiasa, amin.

Monika dan Monita melanjutkan kuliah seperti sebelumnya, well walaupun Monita bilang saat ini masih belum bisa berpikir semaksimal dulu, susah konsentrasi. Saya sedang dalam tahap rekrutasi pekerjaan. Saya dan Monita masih tinggal di rumah tante di Jogja.

Anyway, satu hal yang saya yakini, hidup ini sementara. Kesedihan ini juga sementara. Yang kekal adalah jiwa kita. Jiwa mama sudah berada di surga bersama Yesus, inilah hal yang menguatkan saya.

Sejak saya mengenal Yesus, saya tidak takut lagi akan kematian. Malah, saya menanti-nantikan kapan saya akan bertemu dengannya, karena di situlah saya bisa memandang Yesus muka dengan muka. No, I’m not crazy haha. Read your bible, you will find Apostle Paul said the same thing.

For to me, to live is Christ, and to die is gain (Philippians 1:21) 

Yeah, everything will be fine. God works through all things to bring good to those who love Him. In this life as well as in the next.

And right now, I’ll just have to place every of my anxiety in His Hand.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s