Langit Yang Cerah Untuk Jiwa Yang Sepi

“Kalau udah sampe berhalusinasi gitu, udah bahaya sih, Mel. Berarti ureumnya udah sampai ke otak. Harus cepat diambil tindakan, kalau engga bisa ngga sadar. Menurutku harus HD, tapi nunggu keadaannya membaik,” jelas Billy, teman dari SD sampai SMA yang sekarang jadi mahasiswa fakultas kedokteran UNS. Saat itu, kami sudah dua puluh menitan telponan, membicarakan kondisi mama yang memburuk. Secara umum Billy menjelaskan bagaimana diabetes membuat ginjal mama mengalami penurunan fungsi, dan kalo ureum udah mencapai 135 walaupun kreatininnya masih 8, itu udah harus HD.

Dokter pasti ga mau mengambil keputusan buat HD karena HD itu seperti gambling, ada yang bisa meneruskan hidup, tapi ada juga yang meninggal karena kondisi tubuhnya ngga kuat pas di HD. Dokter ga bisa mengambil risiko moral kaya gitu, terlalu susah, jadi dia pasti serahkan ke keluarga. Billy menambahkan kalo mau HD, harus menunggu kondisi mama membaik dulu. Glukosa, hb, tekanan darah, dan elektrolit harus bagus. Nah ini yang susah, karena mama punya diabetes. Hmm.

*

Waktu menunjukkan pukul 23.43 saat kami menutup telepon. Setelah itu saya ga bisa tidur, ambil HP lagi dan mulai browsing tentang HD. Baru lima belas menit berlalu, HD menjadi pilihan yang ga bisa dibayangkan. Du siapa yang tega liat ibunya ditusuk jarum gede trus mengalami kesakitan luar biasa selama empat jam 😦

Keadaan ini benar-benar menyesakkan. Dari siang, air mata udah berjatuhan tiap kali saya dengar mama salah panggil orang, ngomong ngelantur, dan yang lebih buruknya, mama bahkan ga bisa membedakan anaknya sendiri 😦 Sedih banget we melihat orang yang paling disayangi ada di kondisi seperti itu :””””

Saya letakkan HP, keluar kamar, dan menangis di teras. Hati saya menjerit ke Tuhan, apa yang harus kami lakukan, saya takut sekali. Pikiran demi pikiran silih berganti: mengapa Tuhan biarkan yang seperti ini datang? Bagaimana bisa saya menguatkan kepercayaan pada Tuhan yang membiarkan kepedihan seperti ini datang? Apakah mama akan terus seperti ini? Bagaimana saya bisa ke tega pergi kerja ke tempat yang Tuhan arahkan dengan kondisi mama sakit?

Saya buka lagi chat dari teman-teman yang menguatkan, bersyukur sekali ada orang-orang yang peduli seperti mereka. Manusia memang tidak bisa hidup sendiri. Well, salah satu kalimat yang paling menusuk saya adalah ini,”Percaya aja Mel ke Bapa, percaya bahwa Dia sayang anak-Nya dan pasti memberikan yang terbaik.

Haha.

Sulit sekali mempercayai bahwa Bapa memberikan yang terbaik saat kamu melihat orang tuamu ada di kondisi seperti itu. Saya merasakan sulit sekali berdoa, perasaan jadi campur aduk dan saya berasa sangat-sangat rapuh saat mencoba masuk ke hadirat Tuhan. The pain was real. I saw  my mother suffered, and that was the worst thing in the world. I have endured lots of pain, but this is the worst. I can’t stand this.

Jujur, di detik-detik itu saya jadi banyak mengumpat. Teringatlah kembali adegan di kamar 3×3, tempat Tante Iie, mama, dan adik-adik saat itu sudah tidur. Di siang hari, Tante Wati datang dan Mama mengira itu adalah Monika. Kejadian selanjutnya, Mama tidak pernah mengerti bahwa ia sedang ada di RS, ada lagi saat Mama bersikeras bahwa ia melihat sebuah becak datang menjemputnya. Yang paling memilukan, saat Mama bilang,”Dadah ce, hati-hati di dunia yah, sampai bertemu di surga.”

Oh my Godddddddd

*

Saya bangkit dari tempat duduk saya. Kepala saya penuh. Banyak sekali kalimat yang muncul, seakan-akan sedang ada perang untuk memperebutkan kepercayaan saya: apakah saya tetap percaya pada Bapa atau saya memilih untuk melihat Bapa sebagai bapa yang jahat. It was an extremely tough moment.

Di depan teras ada jalan setapak kecil, saya mulai berjalan bolak-balik melewati jalan itu. Kelelahan berpikir, saya  keluar dari pikiran kamar 3×3 dan mulai melihat objek lain: langit. Langit malam itu sangat cerah, seperti kain biru tua  yang dibentangkan dengan titik-titik putih cahaya bintang yang tersebar di permukaannya.

Melihat langit seakan melihat kanvas waktu. Sinar bintang yang waktu itu masuk ke mata mungkin dipancarkan oleh bintang yang sudah mati ribuan tahun lalu, namun karena jarak yang begitu jauh, sinarnya baru dapat terlihat saat ini. Speaking of history, pikiran ini mulai melayang ke sejarah manusia ribuan tahun ke belakang, dan akhirnya menyadari bahwa adegan di kamar 3×3 itu mungkin hanya seperziliun bagian dari sejarah umat manusia.

Terus berkelana, dari adegan demi adegan sejarah, saya memilih untuk masuk ke zaman Perang Dunia II, dengan lokasi Auschwitz Camp. Penyiksaan di camp ini mungkin adalah penyiksaan paling mengerikan yang pernah terjadi dalam sejarah manusia. Jika saya memposisikan diri sebagai seseorang yang berada di tengah-tengah penderitaan itu, saya akan berpikir bahwa Tuhan (jika memang ada Tuhan) adalah makhluk jahat. Penyiksaan fisik dan mental itu benar-benar tak tertahankan. Bagaimana bisa seseorang yang penuh kasih membiarkan kejahatan sekejam itu terjadi?

Saya tidak akan pernah mengerti perasaan survivor camp itu. Bahkan di salah satu artikel yang sempat saya baca, pertanyaan seperti, “Di mana Tuhan? Mengapa hal ini terjadi?” dilarang untuk ditanyakan di sana. Mungkin pertanyaan itu akan membuat keadaan hati semakin pedih, menghilangkan harapan yang selama ini mereka percayai.

Waktu memang membuktikan bahwa Hitler pada akhirnya mati dan Nazi dibubarkan. Namun tetap, luka itu tetap ada, pertanyaan itu tetap ada.

“Di mana Tuhan?”

*

“Sebenarnya, Tuhan di sana. Namun jika Ia berusaha mengintervensi, manusia tidak akan memiliki kehendak bebas, dan dunia ini tidak akan ada artinya. Tuhan memberikan perintah “jangan membunuh”, “jangan iri akan milik sesamamu manusia”, namun keberadaan-Nyalah yang manusia pertanyakan ketika manusia melanggar perintah-Nya,” urai Paus Benediktus XVI ketika ia mengunjungi Auschwitz.

Mungkin Tuhan ada sejak bertahun-tahun lalu, mengingatkan mama saya untuk makan teratur. Tuhan tidak tinggal diam. Tapi entah mengapa, Dia selalu disalahkan saat ada kejadian yang tidak menyenangkan.

*

Ketika dilihat secara makroskopik, sebenarnya kejadian hari itu tidak terlalu memberatkan. Saya hanya perlu menunggu waktu ketika adegan lainnya datang. Gambaran mama yang sudah sehat di masa depan membuat saya tersenyum. Ini semua hanyalah mengenai sudut pandang. Beberapa bulan lagi mama akan sembuh, saya perlu menenangkan hati agar bisa percaya kepada Bapa.

Dan saya tersadar akan sesuatu. Dalam jam-jam pergumulan yang berat itu, Dia ada bersama-sama dengan kami di ruangan 3×3, di jalan setapak, dan di langit yang saya lihat.

 

P.S.
If any of you is curious about what happens next, in the morning my mom was getting back, she could recognize her environment well, speak normally, her creatinin value fell to 6 and the ureum value to 120. Praise God in all things!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s